Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 13 Oktober 2009
Kamis, 16 April 2009
KARTINI KARTINI PENDIDIKAN
refleksi sebuah kaum
dimana hawa membusungkan kebenaran
diantara hajat yang tak banyak mendukung
kata perubahan
masih juga di sepelekan
setelah kartini kartini pendidikan banyak menoreh karya
mendiskreditkan tenaga
menomorduakan diantara adam
padahal keringat juang sudah berbuih
Kartini yang selalu mengayomi dengan kasih ibu
dimana ilmu mulai dipertaruhkan
hak yang disetarakan
mencoba mengalahkan tiang ketidak jujuran
suapaya kartini tidak kropos di penghujung jaman
suara suara kartini
lantangkanlah..!!!
teriakkanlah..!!!
sudah saatnya kita bangkit
bertengger dipundak perjuangan
kibarkan bendera tut wuri handayani di sanubari anak kita
Dari Meja Kerja untuk Pendidikan Bangsaku (HUT KARTINI 2009) By : DEWI HASTIN ASIH, S.KOM
KURSI
disudut itu ia hanya bisa mematung
merangkai kisah kisah indah
merangkai penghianatan
merangkai derita diantara penyesalan
merangkai cerita menuju penjara
disudut itu ia hanya bisa bergumam
aku diperebutkan
aku disanjungkan
aku diburu tuju
akulah penanti tuan
disudut itu ia hanya bisa berdoa
doa akan tuan yang akan berjalan lurus
doa akan tuan yang tidak melupakan janji saat meminang aku
doa akan tuan yang meninggalkan nafsu diatasku
doa akan tuan yang tidak menghias hari aku dengan tamu penjilatan
doa akan tuan untuk ku
pandanglah aku
jika tuan hendak melamar
sebelum ikrar kita tautkan
sematkan juga cincin keluhuran
dimana kita bisa bernostalgia meyelamatkan cita cita
hingga beranak pinak kebahagiaan untuk semesta
Jikalau masa itu datang diantara kita
pisah adalah merupakan salam terbaik
diantara hebatnya perjuangan kita
bukanlah penghianatan yang kita gores
hingga sejarah mencatat kelak
Dari Meja Kerja Untuk Masa Depan Bangsaku By : DEWI HASTIN ASIH, S.KOM
Minggu, 29 Maret 2009
Begundal dalam cinta
Hatinya melanglang hinggap di setiap hawa
Perankan elok rupa
Menaruh hitungan angka disetiap jengkal belaian
Mengais buas dalam kegelapan
Mengadukan nasib pada ke mayaan
Hingga dicambuk sesal mendalam
Rehabilitasi.
Dan
Asa pudur di kedalaman bumi
Sebentar…
Biar ku mandi dulu..!
: berpakaian
: cicipi kopi sebentar siang
ku pergi.
tak pelak ku tau kau bungkam
bersembunyi diantara retina yang menyala merah
semalam drama itu terlalu tragis
: piring melayang seperti bersayap
: pakaian melantai terinjak – injak sihati perih
: yang terjangkau pastilah menjerit
pecah..!!!
traaannggg….!!!
Plakk..!!
Kau menaparku?
…………
Dan, Kau pun pergi…
Dan, kaupun pergi
Meninggalkan semua cerita
Disaat hatiku
Merindukan hadirmu
Kau pergi tak berucap
Tak sempatkah kau kabari ku
Mungkinkah ku terkasar
Dan menyudutkan mu..
Lebam benar kah kisah kita, kasih…?
(Dinda penyejuk hati, ku pastikan kau kembali..)
PERAWAN DAN JEJAKA
Rembulan mengaca dilaut
Meliuk – liuk ombak mengelus rona
Berdercik ikan – ikan kecil guruankan nelayan
Saat jala membentang membelah laut
Rembulan memecah di daun kelapa
Menggigil cahaya dalam selimut malam
Buih menusuk rasuk diantara kelupas ari
Berderik – derik tulang ke tulang
Masih rembulan meneruka kegelapan
Memecah desah melongok jenkrik
Tilam dihujam kusut berkerut
Bercengkrama jejaka dan perawan :
Mulut meremas mulut, jemari bertaut paut
Adrenalin menyetan sentak
Hati patah isak tak sudah
Tergiur rembulan mengintip
Berbisik di daun pintu
Perawan pucat…!
Lilin menampar meja
Jejaka trauma…!
Rembulan menggeleng benci
Dan,
Beringsut pergi.
Jika Pujangga Merindu
Tak habis kata di pinang
Tak sehelai kertas pembakul butiran syair
Dari rembulan ke matahari
Tak berspasi.
Setiap jejak merangkai rayu
Rayuan menuai cumbu
Cumbuan penggelitik kalbu
Kalbu – kalbu lugu.
Jika pujangga merindu :
Menatap bunga, bunga malu
Berkaca di air, air meliuk getar
Menghijau rona, meng-ungu hati
Bidadari tersipu malu.
Jika pujangga merindu?
Entahlah…
Selingkuh
Pergumulan ku dengannya menuai cinta
Jauh sebelum hati jahatku melirik dikau
Tlah mencuap wajah-wajah mungil
Tangan-tangan kecil yang slalu rindu kasih
Kebahagianku dengannya diketuk dikau, yang hanya melampiaskan
Raga penuh hasrat...!
Jiwaku penuh sesal
Slalu ku tamparkan pada bayangan hitamku
Kemarahan terkadang kulampiaskan pada hati yang tercinta
Pada wajah-wajah mungil mutiaraku
Pada tangan-tangan kecil dan wanita resmiku
Ku teramuk dalam singgasana dikau yang hanya memberikan semu
Pada hasrat yang haus
Kau membiusku dalam kehidupanmu
yang tak sengaja aku kau penjarakan disana
lembah yang tak ingin hati kumuhku terprasasti
”Sujud”
Malam ini.
Ku pergi berwudhu’
Menyucikan segala keburukan
Ku ambil sejadah dan ku bentangkan
Dari takbir ke takbir
Rakaat ke rakaat
Hingga salam
Ku sujudkan hati
Hanya meminta permohonan ampun-mu.
Ku nyanyikan zikir
Sepanjang malam yang tak bosan menemaniku
Terakhir,
Kututup dengan do’a.
di Beranda Agam.
2 april 2004 masih menyisakan hujan
”Di Pintu Maut-Mu 2”
Dalam hati meyisakan sesal mendalam
Pembaringan menyertai keberangkatanmu
Kau terlupa akan dia di hari-hari yang merajakanmu...?
Dan disaat kau tersadar
Pintu itu terbuka untukmu.
di Beranda Agam.
2 april 2004 masih menyisakan hujan
“Di Pintu Maut-Mu 1”
“Di Pintu Maut-Mu 1”
“Bila izroil datang memanggil”
jasad terbujur di pembaringan”
Merontakah kau tuk meyepakkannya pergi ?
Atau
Menangis tuk memelas iba ?
Memohon penuh harap tuk secuil hidup yang tak pernah menuai pahala
Menyesal..?
Dalam pertemuan yang tak kau duga..!
Terlambat.
di Beranda Agam.
2 april 2004 masih menyisakan hujan
Cinta ?
Pada siapa aku harus mengadukan rasa sakit
Yang menyesakkan dalam memory kapalaku
Yang slalu di hujami
Dengan satu kata cinta.
Aku coba menaruh cinta di puncak gunung
Biar cinta ku bumbungkan tinggi
Tapi kenapa gunung menggetarkannya…?
Membenamkan cinta kelautanpun
Kenapa musti ombak harus risih dan mengombang-ambingkannya..?
Mungkin cinta harus ku ajak melayang ke awan
Untuk menggantungkan setinggi-tingginya cinta
Kenapa musti angin harus mengibaskannya...?
Mungkin harus aku coba membalut cinta kedalam hati
Dan kubawa menyepi
Agar dapat ku peras ”apa itu cinta....!”
Atau
Kuhadiahkan pada rasa setiap insan yang bernyawa
Pasti semuanya membingkai indah
Bahkan lebih sebagai mahluk penyanjung cinta
Munafik kurasa
Jika beribu nyawa tidak ditetekkan cinta !
Cinta……!
Memang tak mempunyai pusara
Terlalu kecil jika alam
Ingin menorehkannya pada nisan.
di Beranda Agam.
1 april 2004 masih menyisakan hujan
“Seteguk Gumaman Hati”
(Kutuangkan gundah kepantai.....)
Ternyata malam memang tak bisa menyentuh sejuknya pagi
Seperti kemarahan bintang !
Pada matahari yang ingin merangkul bulan
Jikapun ombak bisa meraih bibir pantai
Masih saja tertatih untuk mengais butir-butir pasir
Sedangkan kita,
Seumpama bumi menggapai awan
Apakah mungkin?
Sebuah perbedaan! Itulah hidup
Seperti air yang tertuang dalam gelas minum pagi kita
Teguk aja !
Biarkan segar meraga
Mengaliri kedebuan hati yang kusam
Aku………. Kamu………….
Aku dan khayal
Kamu dan khayal
Seperti itulah kita ! cukup sampai disitu.
Tak lebih !
Kau bertanya tentang hati.....?
kembarakan saja pada waktu yang akan menungganginya
kalau perlu asing kan ke perut-perut goa
atau
lemparkan aja ke samudera
biar ombak melambungkan... menghempaskan... dan melapukkanya !
Kita dan masa depan....?
Seperti mimpi yang menggelitik malam.
di Beranda Agam.
1 april 2004 masih menyisakan hujan
“Sosok Yang Terindukan….?”
Bila saja kita bisa berandai-andai
Bila saja kita bisa meramalkan pasti sosok yang terindukan
Semua mulut akan berdercik memaparkan sesempurna mungkin wujud itu
Pasti tak cukup segudang kata tuk menuliskan karakternya
Segunung puji untuk menyanjungnya
Mungkin tak cukup semalam tuk menggunjingkan sosok yang terindukan
Tak cukup juga seminggu, sebulan bahkan setahun sekalipun
Bilik hatipun kan berdebar !!!
Matakan terkesima !!!
Seandainya dia sosok yang terindukan
Melintas dan menyapa penuh senyum
Membelai dengan hati
Dan merangkul penuh cinta
Andaikan Dia itu sosok yang tiada pernah ada
Kemanakah jiwa-jiwa yang dahaga akan bersandar...?
di Beranda Agam.
1 april 2004 masih menyisakan hujan
“Wakil Rakyat”
“ Wakil Rakyat seharusnya merakyat
jangan tidur waktu sidang soal rakyat”
Lirik lagu dari Bang Iwan masih saja terus menggelitik telinga
Menggugah hati yang masih sempoyongan menatap
Usia politik yang makin menggila
Seperti bom !!!
Yang tiap detik kan meledakkan seusung harapan
Dengan bunga-bunga janji yang semakin mekar
Dan meng-akar kuat diperasaan buta tuan-tuan
Yang merayu kalbu-kalbu lugu
Di penghujung waktu yang masih tersisa
Dimana kilauan kemenangan hampir terdampar
Di depan mata yang penuh harap
Di hati yang merindukan rangkulan sahabat
Di tangan-tangan bijak yang terpilih nanti
Tuk berani lantangkan suaranya :
Tidak kebohongan……!
Tidak janji-janji yang penuh mimpi……..!
Tidak juga sosok yang tergiur dengan banyaknya rupiah di meja nanti…….!
Tidak juga Si-pengkhayal di balik kursi…….!
Tidak juga kemenangan untuk mendadani perut….….!
Sedikit harap dari kaum kecilmu yang terlupakan:
“sapalah negriku dengan kebijaksanaanmu”
“gauli-lah bunda pertiwi dengan tangan-tangan sucimu”
“Tata dan Rapikan negri yang hampir teramputasi”
di Beranda Agam.
1 april 2004 masih menyisakan hujan
Sepotong Doa ( Teruntuk Tanah Rencong )
Yaa…Robbii….
Yaa…Maha Besar,
Pagi itu qalam-Mu tlah datang menyapa,
Engkau peluk Aceh dengan khidmat
Engkau tegaskan pada mata dunia
: tentang buaian tanah bergetar..!!!
: tentang belaian ombak menari..!!!
: tentang jeritan hati yang mengisak…!!!
: tentang mengantarkan hidup pada takdir
berselimut diri dengan tebal kabut duka
Yaa…Robbii…
Sujud tak berbatas,
Sayang-Mu pada Aceh melebihi segalanya
Hati yang terkatup lama dalam bungkam
Mata yang tak bisa menitikkan embun
Engkau renggut dalam kasih
Syahid…..
Yaa…Robbii…
Yaa…Arsitek..Semesta,
Tegarkan kaki tak bertuan ini
Menapak di Aceh yang sudah engkau toreh
Bimbing aura yang mengedip
‘tuk melihat hijau dan biru kembali
‘tuk melihat rindu pada seulas senyum
‘tuk melihat sekelompok burung berkicau
‘tuk melihat damai yang melumut di bui
‘tuk melihat rangkul penuh cinta, jabat-erat tak dusta !!!
Kami mengetuk pintu-Mu, Yaa.. Robii…
Pada teman sejati,
Hanya sepotong Do’a penabur kala gundah
Dalam hening kubingkai
Kegundahan tanah rencongmu dalam lilitan kaffan putih.
Masuk dalam terbitan Padang Ekspres Minggu 9 januari 2005
Kaffan Tuk Aceh
Kain putih itu berganti merah
Kotor dan berlumpur..
Dikebumikan pun tak melekat ke bandan
Berongok – onggok adam-hawa diliang besar
Nadi mati tak terlepas jemput
Seketika terombang
Terhimpit
Membenam tak raih asa di permukaan
Terkulai
Lalu tergeletak
Jasad yang terbujur kaku
Tak mengumbar belas iba
Tanpa tanda tanya
Lalu berlalu tak berbekas
Ketika mereka yang hidup
Tak perlu meratap
Tak perlu mengurai tangis
Cukup selimuti
Jasad – jasad pucat, selempangkan kaffan
Tancapkan nisan, taburi sholat dan secarik doa
Cuma itu...
[ 06 Januari 2005 ]
Buat korban tsunami di NAD & Sumut
”Dewi Pendampingku”
Mendakiku,
Menurunku,
Bukit berbatu terjal
Lembah mencuram cukam
Pada jalan tak berujung liku membelok
Pada ranting bersemayam dedauanan hijau
Bergoyang kelopak bunga dijentik kupu-kupu menari
Jiwa yang penuh harap
Terbata bata kala meraba kedeguban hati
Sebentar henti, sebentar tertatih
Dahaga yang gundah
Kupaksa menghisap hampa
Hatiku luluh lantak, pesonamu kembang di kala mata mengatup
Aku akan menuai Dewi..........!!!
Taman hati yang penuh jerat
Sukma bercumbu
Gemulai tangan merayu
Bercengkrama cinta pada cinta
Gelap benderang
Dingin berpeluh
Bertahtakan suci menyulam anggun
Hatiku tlah menikahinnya...
Masih separoh malam 05 05 04
Di Beranda Agam-Sumatera Barat.
AKU DAN GUNDAH
Malam itu,
Pembaringan ku seakan beronak
Tek seperti malam – malam lampau
Dimana masih ku rasa
Jemari – jemari lembut memijiti kelelahanku menapaki hari
Malam itu,
Kamarku menggeliat enggan
Ketika aku mengajaknya melayang ke 1001 malam
Tak seperti malam – malam lampau
Mengerling dan mengangguk manja
Kala ku ajak bercengkrama hingga ke tepian – tepian malam
Malam itu,
Kurasakan sesak tak berujung
Bulan dihimpit matahari !
Karena tak sejuk malamku
Karena tak dingin malamku
Karena tak hening malamku
Tuhan,
Kembalikan aku pada malamku
Lb. Basung 14 Maret 2005
23.55 Wib Gerah
Langganan:
Postingan (Atom)
